www.portalkabar.id – Surabaya – Sutradara Bayu Skak menggarisbawahi potensi yang dimiliki para sineas film independen di Surabaya. Namun, dia juga mencatat adanya kendala signifikan yang menghalangi perkembangan mereka yaitu kurangnya sarana dan peralatan yang memadai.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara “Bicara Film: Merayakan Kearifan Lokal Lewat Sinema” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Surabaya. Di hadapan para sineas muda, Bayu memberikan pandangannya mengenai situasi perfilman saat ini.
Menurut Bayu, karya yang dihasilkan oleh sineas muda masih terbilang biasa saja dibandingkan dengan standar industri. Meskipun demikian, ia mengapresiasi usaha mereka yang sangat berarti, walaupun terhambat oleh keterbatasan alat dan sumber daya.
“Kualitas potongan gambar yang kurang memuaskan disebabkan oleh penggunaan lensa kamera yang tidak optimal. Jika menggunakan lensa yang lebih berkualitas, saya yakin hasilnya bisa jauh lebih baik,” jelasnya.
Dalam kesempatan ini, Bayu mengingatkan bahwa keberanian adalah kunci utama untuk meraih sukses di dunia film. Sebagai seorang sineas yang memulai karier dari jalur independen, ia menekankan pentingnya keberanian dalam mengembangkan karya.
“Harapannya, mari kita semua berani. Apalagi kita berasal dari Jawa Timur, yang dikenal dengan semangat juang yang tinggi. Jadi sudah seharusnya sepanjang kita bisa berkreasi, kita tidak boleh merasa takut,” serunya dengan semangat.
Bayu juga berbagi pengalamannya menggunakan platform seperti YouTube untuk membangun basis penggemar yang solid, yang akhirnya menjadi modal saat berhadapan dengan produser besar. Dia mencatat bahwa kolaborasi antara pemerintah dan platform seperti Vidio.com untuk mendanai film pendek menjadi langkah yang positif.
Menghadapi Tantangan dengan Kreativitas dan Kerjasama
Menanggapi pandangan Bayu, Riwud Mujirahayu dari Kemenparekraf mengakui pentingnya dukungan pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi para sineas. Ia menegaskan perlunya tempat bagi para pelaku seni agar dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan.
“Kami berharap acara seperti ini dapat mengubah potensi cerita lokal menjadi kekuatan ekonomi yang dapat dimanfaatkan secara optimal,” ungkap Riwud. Ini menunjukkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk membangun industri perfilman yang lebih kuat.
Riwud juga menjelaskan bahwa acara “Bicara Film” di Surabaya tersebut dihadiri oleh banyak sineas, termasuk mereka yang terlibat dalam proyek film “Cocote Tonggo.” Keterlibatan mereka sangat penting untuk membina hubungan antara komunitas dan industri kreatif.
“Sebuah forum seperti ini sangat penting bagi pertumbuhan ekosistem perfilman, di mana kita bisa saling belajar dan berbagi pengalaman,” tambahnya. Ini menunjukkan betapa relevannya kolaborasi dalam dunia perfilman saat ini.
Di tengah diskusi, Riwud tidak menafikan tantangan anggaran yang masih menjadi masalah. “Anggaran kami memang terbatas, namun kami tetap memiliki visi untuk mendorong kolaborasi antarpihak dalam pengembangan industri ini,” katanya.
Membangun Sinergi Antarpihak untuk Kemajuan Film Lokal
Ia menjelaskan bahwa pendekatan ‘Hexahelix’ yang mengajak kerja sama antara pemerintah, industri, komunitas, akademisi, media, dan lembaga keuangan merupakan strategi yang perlu dip prioritaskan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas karya dan memperluas jangkauan audien.
“Melalui sinergi ini, kita dapat mendukung produksi film daerah agar bisa dikenal luas, baik di dalam maupun luar negeri,” tegas Riwud. Fokus pada kerja sama akan memberikan dampak positif bagi industri film lokal.
Riwud juga memaparkan data dari Badan Pusat Statistik yang menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam jumlah pekerja di sektor film, animasi, dan video. Melonjaknya angka ini menunjukkan potensi yang sangat besar untuk digali lebih dalam.
“Kami berharap hasil dari kegiatan seperti Bicara Film ini dapat memunculkan ide-ide baru yang berakar pada kearifan lokal, sehingga perfilman Indonesia dapat lebih diperhitungkan di kancah internasional,” ujarnya dengan optimis.
Dari paparan ini, terlihat jelas bahwa meskipun terdapat tantangan, semangat kolaborasi dan keberanian dari para sineas muda adalah faktor penting dalam mengembangkan industri film independen. Dengan dukungan yang tepat, film-film lokal berpotensi untuk bersinar di panggung yang lebih luas.


