www.portalkabar.id – Pesta Puisi Kemerdekaan di Ujung Bulan akan menjadi acara penting yang digelar oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PWNU Jawa Timur. Acara ini berlangsung pada Minggu, 31 Agustus 2025, di Aula KH Bisri Syansuri, Surabaya, dan diharapkan menjadi momen istimewa bagi para pecinta sastra.
Di dalam rangkaian acara tersebut, juga akan dilaksanakan peluncuran Buku Puisi “Pengantin Bulan Domba” yang ditulis oleh Didik Wahyudi. Penyair yang merupakan alumni Universitas Negeri Surabaya ini dikenal aktif dalam dunia teater dan berkontribusi dalam berbagai produksi seni.
Didik mengawali kariernya dengan terlibat dalam produksi klip di Museum Nahdlatul Ulama yang disutradarai oleh Riadi Ngasiran. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan seni menunjukkan dedikasi dan cinta besarnya terhadap seni dan budaya.
Acara ini dipastikan akan dihadiri oleh sejumlah penyair terkenal dari berbagai daerah, baik dari tingkat nasional maupun lokal. Nama-nama seperti Mardi Luhung, Mashuri, dan Ribut Wijoto akan turut memeriahkan rangkaian acara dalam suasana yang hangat dan inspiratif.
Perayaan yang Menghargai Karya Sastra dan Budaya
Partisipasi penyair dari berbagai latar belakang menunjukkan betapa beragamnya kekayaan sastra Indonesia. Dengan mengumpulkan banyak seniman, LESBUMI PWNU ingin menciptakan suasana yang meriah sekaligus memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80.
Hal ini hanyalah salah satu cara warga Nahdliyin merayakan semangat kemerdekaan. Menurut Ning Nabila Dewi Gayatri, Sekretaris LESBUMI PWNU Jawa Timur, banyak aktivitas yang dilakukan untuk mengingat sejarah dan memperkuat rasa cinta tanah air dalam bentuk seni.
Pesan yang disampaikan mengindikasikan bahwa kegiatan seperti ini tidak hanya sekedar memperingati sejarah, tetapi juga berbagi dan menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai sastra. Maka, dukungan dari seniman dan masyarakat sangat diharapkan mensukseskan acara ini.
Memperluas Jangkauan Seni dan Budaya
Tidak hanya mengundang seniman lokal, acara ini juga menarik perhatian penyair dari berbagai daerah. Pihak panitia memersiapkan agar para pecinta kesenian dari Sidoarjo, Bangil, dan Jombang dapat hadir untuk meramaikan suasana. Mereka semua berkolaborasi di dalam acara yang terbuka untuk masyarakat umum.
Gus Wildan K. Amrullah, sebagai Bendahara Lesbumi PWNU Jawa Timur, menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk mengekspresikan rasa syukur atas kemerdekaan layaknya perayaan lainnya. Dengan demikian, diharapkan para seniman dapat terus berkarya dan menginspirasi masyarakat luas.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya penyair, tetapi juga menjadi ruang dialog antarbudaya. Para penyair akan saling berbagi pengalaman dan ide, dan ini akan semakin memperkaya dunia sastra di Indonesia.
Menjadi Sponsor Kebangkitan Seni di Era Modern
Dalam suasana kebangkitan seni kini, penyair-penyair muda berperan aktif dengan tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun jembatan komunikasi serta kerjasama antar seniman. Kesempatan ini sangat berharga untuk menunjukkan kekuatan seni sebagai medium untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan nilai-nilai kebangsaan.
Di tengah situasi yang serba cepat ini, perlu adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat untuk mempromosikan acara penghargaan seni. Keberadaan dukungan ini akan semakin mendorong kreator untuk terus berinovasi dalam berkarya dan menyajikan yang terbaik bagi masyarakat.
Dengan terlibat dalam berbagai kegiatan seni, diharapkan seniman muda dapat menjadikan keberadaan mereka relevan. Mereka akan diingat bukan hanya sebagai penyair, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam konteks sosial dan budaya.
Kesan Mendalam tentang Sejarah dan Sastra
Acara ini adalah pengingat akan pentingnya sastra dalam membangun identitas bangsa. Dalam semangat kebersamaan, para penyair berusaha mengingatkan bahwa mereka memiliki akar budaya yang kuat, yang dalam hal ini harus terus dijaga dan dipelihara.
Mardi Luhung, salah satu penyair yang berperan aktif, mengungkapkan perasaannya saat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Ia mengajak masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sastra dan sejarah. Ini adalah momen yang tepat untuk menumbuhkan rasa cinta kepada artefak budaya bangsa.
Dengan menelusuri kembali jejak langkah para pendiri bangsa, kita dapat bermozaik dengan karya-karya yang menggugah semangat. Kegiatan seperti Pesta Puisi Kemerdekaan ini menjadi ajang untuk menggali nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.