www.portalkabar.id – Isu kecerdasan buatan (AI) telah menjadi fenomena yang memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia, termasuk dunia kreatif. Festival Sastra Kota Malang (FSKM) 2025 menjadi wadah untuk mengeksplorasi tema ini dalam diskusi yang menarik bertajuk “Merakit Kisah Antara Manusia dan Kecerdasan Buatan” di Maliki Plaza, Malang. Diskusi ini berlangsung pada Sabtu, 22 November 2025, dan berhasil menarik perhatian banyak peserta.
Kegiatan ini dipandu oleh Dani Alifian, yang menjelaskan bahwa tema utama yang diangkat berkisar pada dilema eksistensial para penulis di era digital. Dalam sesi ini, dua pemateri, Dadang Ari Murtono dan Moh. Fikri Zulfikar, hadir untuk memberikan pandangan masing-masing dan memicu perdebatan yang mendalam.
Kejutan datang ketika Dadang Ari Murtono, yang dikenal sebagai penulis produktif, mengungkapkan keterbatasan dirinya dalam hal teknologi. Menariknya, ia baru saja merilis buku berjudul Buku Pegangan Mencari Kerja, sebuah novel yang merupakan hasil kolaborasi dengan AI. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai hubungan antara manusia dan mesin dalam proses kreatif.
“Saya tidak menyangka bisa melakukan kolaborasi dengan AI,” kata Dadang, menciptakan suasana yang penuh keingintahuan di kalangan peserta diskusi. Meskipun dia mengakui keterbatasannya, kehadirannya di dunia teknologi mencerminkan kenyataan bahwa AI semakin berperan penting di dalam industri kreatif.
Dalam pandangannya, Dadang menekankan bahwa AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu, bukan sebagai penguasa dalam proses kreatif. Ia menolak ide bahwa penulis harus mengikuti 100 persen saran dari AI. “AI mirip dengan kehadiran fotografi yang pernah dianggap mengancam seni lukis,” ujarnya. Menurutnya, teknologi ini perlu ditanggapi dengan bijak untuk menghindari potensi distopia.
Selain itu, Dadang juga berpendapat bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Kekuatan dan kepiawaian penulis akan menentukan apakah teknologi ini membawa manfaat atau justru berpotensi menghancurkan. Oleh karena itu, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan alat-alat yang tersedia untuk mendukung karya seni.
Pandangan Kritis dan Analisis Terhadap Kecerdasan Buatan
Moh. Fikri Zulfikar menawarkan perspektif yang berbeda dalam diskusi ini. Dia mengakui bahwa kolaborasi antara manusia dan AI bukanlah sesuatu yang baru, merujuk pada karya-karya sebelumnya yang telah dilakukan para penulis. Fikri menjelaskan bahwa meskipun AI dapat mengatur struktur naratif dengan baik, ia gagal dalam menangkap absurditas atau keunikan emosi manusia.
“AI mungkin eksel dalam hal teknis, namun saat menyentuh aspek emosional yang kompleks, ia memiliki keterbatasan,” katanya. Ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi memiliki keunggulan tertentu, ada elemen yang tak dapat digantikan oleh mesin.
Lebih jauh, Fikri menekankan pentingnya kepuasan dalam berkarya, bukan sekadar mengandalkan hasil akhir. “Jika penulis hanya fokus pada hasil, AI bisa menjadi solusi,” ungkapnya. Namun, bagi mereka yang mencari kedalaman dan kehalusan rasa dalam karya mereka, sentuhan manusia tetap tidak tergantikan.
Pembahasan mereka semakin mendalam ketika perihal etika penggunaan AI menjadi sorotan. Fikri mengajukan pertanyaan yang membuat audiens berpikir lebih dalam: “Apakah kita berani jujur mengenai penggunaan AI dalam karya kita?” Ini menciptakan ketegangan dan membuka kesempatan untuk refleksi di kalangan penulis dan kreator.
Dia mengungkapkan ironisnya banyak penulis yang menggunakan AI secara sembunyi-sembunyi. Tak banyak yang memiliki nyali untuk mengaku secara terbuka, dan ini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia sastra saat ini. “Moralitas dalam penggunaan teknologi harus menjadi perhatian kita bersama,” tambahnya.
Pentingnya Etika dalam Penggunaan Kecerdasan Buatan
Diskusi ini berakhir dengan kesimpulan bahwa AI seharusnya diakui sebagai kolaborator, bukan pengganti kreator manusia. Dalam konteks ini, Fikri merekomendasikan agar posisi AI dibatasi untuk mendukung penciptaan karya, bukan mengambil alih peran penulis. Ini menekankan pentingnya integritas dalam dunia sastra.
Kehadiran AI dalam dunia kreativitas tidak bisa diabaikan, namun harus diperhatikan dengan saksama. Keterlibatan manusia dengan kesadaran penuh akan nilai-nilai artistik tetap krusial untuk menjaga keaslian dan kekayaan sebuah karya. Oleh karena itu, kita perlu tegas dalam mendefinisikan batasan dan peran AI.
Dengan demikian, perbincangan tentang keberadaan dan fungsi AI di dunia sastra diharapkan akan terus berkembang. Diskusi semacam ini sangat penting untuk mengedukasi para penulis dan kreator, serta membuka ruang untuk pertanyaan yang lebih luas mengenai masa depan kreatifitas manusia di era teknologi yang semakin maju. Kuncinya terletak pada keseimbangan antara inovasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Kesimpulan dari diskusi ini membawa harapan akan kolaborasi yang harmonis antara manusia dan teknologi. Seiring dengan perkembangan zaman, penting bagi kita untuk bersikap adaptif. Dalam dunia yang terus berubah ini, peran penulis sebagai pemandu dalam menghadirkan keindahan dan kedalaman seni tetap akan menjadi hal yang utama dan tak tergerus oleh kemajuan teknologi.


