www.portalkabar.id – Malang adalah sebuah kota yang lebih dari sekedar kumpulan bangunan dan jalan raya. Kota ini memiliki cerita dan narasi yang terjalin antara sejarah, budaya, dan kehidupan warganya, yang menjadikan setiap sudutnya kaya akan makna. Festival Sastra Kota Malang (FSKM) 2025 mengangkat tema ini, mengundang orang-orang untuk mengeksplorasi aspek-aspek yang sering kali luput dari perhatian umum.
Pada Sabtu, 22 November 2025, acara “Jalan-Jalan Sastra” diadakan dalam rangkaian festival ini. Dalam kegiatan ini, peserta diajak untuk merasakan langsung esensi kota dan mengeksplorasi sudut-sudut tersembunyinya, dari Kayutangan hingga kawasan Kopi Lonceng, yang dipandu oleh komunitas sejarah Footish Malang.
Titik awal perjalanan ditandai di BNI Kayutangan, di mana Rendy Padmanaba selaku PIC menjelaskan bahwa kegiatan ini berfokus untuk mencatat keindahan dan keunikan kota. Tujuannya adalah untuk memberikan perspektif yang lebih dalam tentang sejarah dan budaya kota yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat.
Menelusuri Jejak Sejarah yang Tersembunyi di Malang
Perjalanan dimulai dengan menjelajahi rute bersejarah yang sarat dengan narasi. Peserta akan melewati Bundaran Jam Kota, serta lorong-lorong di sekitar Rumah Sakit Saiful Anwar, sekali lagi mengingatkan kita akan pentingnya memahami konteks sejarah dalam lokasi-lokasi yang kita kunjungi. Rute ini juga mencakup Kampung Putih, Kampung Biru, dan Titik Nol Kilometer, yang masing-masing menyimpan ceritanya tersendiri.
Sepanjang perjalanan, wawasan sejarah disampaikan dengan menarik, mengajak peserta untuk melihat keindahan gedung-gedung ikonik yang ada di Kayutangan. Contohnya, gedung-gedung kembar di kawasan tersebut, yang salah satunya kini menjadi pusat perbelanjaan dan mengusung nama terkenal, serta pertokoan Rajabali yang memiliki sejarah panjang di balik namanya.
Namun, perjalanan ini tidak hanya berfokus pada bangunan megah. Sisi humanis dan tragis dari sejarah Malang juga menjadi bahan diskusi. Peserta diajak untuk melihat sisa-sisa bangunan heritage di perkampungan Tjelaket, yang dulunya berfungsi sebagai benteng pertahanan, memperlihatkan bahwa setiap bangunan memiliki cerita yang unik.
Lokakarya Penulisan Cerita Pendek Berbasis Kota
Puncak acara berlangsung di Kopi Lonceng, di mana sastrawan terkenal Raudal Tanjung Banua memimpin lokakarya penulisan cerita pendek. Dalam sesi ini, Raudal menekankan pentingnya peran kota dalam narasi sebuah cerita, bahwa kota tidak boleh sekadar menjadi latar belakang yang hampa, tetapi harus dapat “berbicara” dalam cerita yang ditulis.
Untuk mencapai kedalaman ini, Raudal memperkenalkan dua teknik penting: Observasi dan Obsesi. Observasi melibatkan pengamatan mendalam terhadap elemen-elemen fisik kota, seperti bangunan dan simbol-simbol yang mencirikan sejarah. Ini adalah langkah awal yang teramat penting untuk menangkap detail-detail kecil yang dapat membuat latar menjadi hidup.
Di sisi lain, obsesi merujuk pada ide-ide mentah yang setiap penulis bawa dari rumah. Ia berkata bahwa ide-ide ini adalah apa yang muncul dalam pikiran ketika seorang penulis melihat dan merasakan suasana di sekelilingnya, termasuk potensi konflik dan keindahan yang bisa ditulis.
Menjawab Pertanyaan Seputar Penulisan Fiksi Sejarah
Selama sesi diskusi, timbul pertanyaan menarik mengenai batasan antara menulis fiksi sejarah dan menulis ulang sejarah yang sudah ada. Raudal menekankan bahwa fungsi sastra bukan hanya untuk merekam fakta, tetapi juga untuk memberikan ruang bagi interpretasi lain yang mungkin tidak tercermin dalam catatan sejarah formal. Ini menjadi salah satu nilai penting dalam penulisan fiksi.
“Sastra memberikan ruang bagi interpretasi yang berbeda dari yang ditawarkan oleh sejarah, dan itu adalah hal yang baik,” jelas Raudal, menjelaskan pentingnya pendekatan kreatif dalam penulisan. Dalam dunia fiksi, penulis memiliki kebebasan untuk menafsirkan kembali peristiwa dengan cara yang membuatnya unik.
Pesan terakhir Raudal adalah bahwa menulis tentang kota memerlukan lebih dari sekedar teknik; diperlukan juga olah rasa seperti empati dan simpati terhadap karakter serta peristiwa yang terjadi di dalamnya. Narasi yang kuat biasanya mengemuka dari elemen-elemen kecil yang mungkin terlihat sepele tetapi memiliki makna yang mendalam bagi penulis.
Kegiatan ini berakhir pada pukul 14.00 WIB dan ditutup dengan pembacaan puisi yang menggugah karya seorang sastrawan terkemuka. Seluruh peserta, sebanyak 27 orang, menyaksikan bagaimana esensi kota dapat diabadikan melalui sastra, meninggalkan kesan mendalam bagi mereka mengenai hubungan antara sejarah, budaya, dan kreativitas. Event ini tidak hanya menjadi wadah bagi para penulis muda, tetapi juga memupuk rasa cinta terhadap kota mereka sendiri.


